Metode Pendidikan Islam

Dari segi bahasa metode berasal dari dua perkataan, yaitu meta dan hodos. Meta berati “melalui” dan hodos berarti “jalan” atau “cara”. Dengan demikian metode dapat berati cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan.1 Ada pula yang mengatakan bahwa metode adalah suatu sarana untuk menemukan, menguji dan menyusun data yang diperlukan  bagi pengembangan disiplin tersebut.2 Ada lagi yang berpendapat bahwa metode sebenarnya berati jalan untuk mencapai tujuan3 Dengan pengertian yang terakhir ini, metode lebih memperlihatkan sebagai alat untuk mengolah dan mengembangkan suatu gagasan sehingga menghasilkan suatu teori atau temuan.

Sedang yang dimaksud dengan metode pendidikan adalah cara yang digunakan dalam upaya mendidik.Kata “metode” di sini diartikan secara luas. Karena mengajar adalah salah satu bentuk mendidik, maka metode yang dimaksud di sini mencakup juga metode mengajar.

Selanjutnya jika kata metode tersebut dikaitkan dengan pendidikan Islam, dapat membawa arti metode sebagai jalan untuk  menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi objek sasaran, yaitu pribadi Islami. Selain itu metode dapat pula mengandung arti sebagai cara untuk menggali, memahami dan mengembangkan ajaran Islam, sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Inilah pengertian-pengertian metode yang dapat dipahami dari berbagai pendapat yang disusun para ahli.

Adapun pengertian metode sebagai diungkapkan oleh beberapa ayat Al-Qur’an, ternyata memperlihatkan muatan, nuansa, dan kaitan yang amat luas. Kata toriqah terkadang digunakan sebagai sarana untuk mengantarkan kepada suatu tujuan, terkadang Al-Qur’an menunjukan tentang sifat dari jalan yang ditempuh itu, dan terkadang pula berarti suatu tempat. Dengan demikian, metode atau jalan oleh Al-Qur’an dilihat dari sudut objeknya, fungsinya, sifatnya, akibatnya dan sebagainya. Ini dapat diartikan bahwa perhatian Al-Qur’an terhadap metode demikian tinggi. Al-Qur’an lebih menunjukan isyarat-isyarat yang memungkinkan metode dikembangkan lebih lanjut. Namun demikian, secara eksplisit Al-Qur’an tidak menunjukan arti dari metode pendidikan Islam, karena Al-Qur’an memang bukan ilmu pengetahuan tentang metode. Pemahaman yang luas dan mendalam terhadap ayat-ayat yang mengisyaratkan pentingnya metode sangat dituntut untuk menemukan cara yang tepat dalam menyampaikan pendidikan dan pengajaran. Karena disadari, tentu ada metode yang baik untuk pelajaran dan guru tertentu, tetapi tidak cocok untuk pelajaran lainnya.

Dalam bahasa Arab kata metode diuangkapkan dalam berbagai kata. Tekadang digunakan kata at-tariqah, manhaj, dan al-washilah. At-tariqah berarti jalan, manhaj berarti sistem, dan al-wasilah berarti perantara atau mediator.4 Dengan demikian, kata Arab yang dekat dengan arti metode adalah at-tariqah. Kata at-toriqah, menurut Muhammad Fuad Abd al-Baqy diulang sembilan kali.5 Kata ini kadang dihubungkan dengan obyeknya yang dituju oleh at-tariqah seperti neraka (QS. An-Nisa [4] : 169);

الاّ طريق جهنـم خلدين فيـهآ ابدا وكان ذلك على الله يسيرا

(النساء:  ۱۶۹)

terkadang dihubungkan dengan sifat dari jalan tersebut, seperti at-thariqah al-mustaqimah, yang berarti “jalan yang lurus” (QS.Al-Ahqaf  [46]:30); (Depag RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, 1993)

قالوا يقومنا انّا سمعنا كتابا انزل من بعد موسى مصدّقالما بين يديه يهدي الى الحقّ والى طريق مستـقيم ( الاحقاف :٣٠)

tekadang dihubungkan dengan jalan yang ada ditempat tertentu, seperti at-thariqah fil bahr yang berarti jalan (yang kering) di laut (QS.Thaha [20] : 77); (Depag RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, 1993)

ولقد اوحينآ الى موسى ان اَسر بعبادي فاضرب لهم طريقا فى البحر يبسالاّ تخـفُ دركا ولا تخشى (طـه :٧٧

terkadang dihubungkan dengan akibat dari kepatuhan mematuhi jalan tersebut, seperti pada ayat:

وان لّو استقاموا على الطّريقة لاسقينـهم مّاء غدقا (الجن  :۱۶

“Dan bahwasannya : jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (Agama Islam), benar-benar Kami  akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeqi yang banyak) (QS. Al-Jin [72]:16); (Depag RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, 1993), dan terkadang at-tariqah berarti tata surya atau langit, seperti pada ayat:

ولقد خلقنا فوقكم سبع طرآئق وما كنّا عن الخلق غافلين

(المؤمنون  :۱۷)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit); dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami) (QS. Al-Mu’minun [23]:17). (Depag RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, 1993)

Dari pendekatan kebahasaan tersebut nampak bahwa metode lebih menunjukan kepada jalan dalam arti jalan yang bersifat non fisik. Yakni jalan dalam bentuk ide-ide, gagasan-gagasan yang mengacu kepada cara yang mengantarkan seseorang untuk sampai pada tujuan yang ditentukan. Namun demikian, secara terminologis atau istilah kata metode bisa membawa kepada pengertian yang bermacam-macam sesuai dengan konteksnya.

Muhammad Athiyah Al-Abrasyi seperti dikutip oleh As-Syaibani mendepinisikan metode mengajar dalam bukunya Ruh At-Tarbiyyah watta’lim : “Ia adalah jalan yang kita ikuti  untuk memberi faham kepada murid-murid segala macam pelajaran,sekaligus merupakan rencana yang dibuat untuk menyampaikan pelajaran di dalam kelas. Muhammad Abd. Rohim Ghunaimah mentakrifkan bahwa metode mengajar  sebagai : Cara-cara yang praktis yang menjalankan tujuan-tujuan dan maksud-maksud pengajaran.6

Hasan Langgulung mengatakan, karena pelajaran agama sebagaimana diungkapkan dalam Al-Qur’an itu bukan hanya satu segi saja, melainkan bermacam-macam yaitu ada kognitifnya seperti tentang fakta-fakta sejarah, syarat-syarat sah sembahyang, ada asfek affektifnya, seperti penghayatan pada nilai-nilai keimanan dan akhlak,  dan ada asfek psikomotorik seperti praktik shalat, haji dan sebagainya. Maka metode untuk mengajarakannyapun bermacam-macam, sehingga metode tarbiyah  Islamiyah itu dapat diartikan sebagai metode pengajaran yang disesuaikan dengan materi atau bahan pelajaran yang terdapat dalam Islam itu sendiri. Karena muatan ajaran Islam itu luas,

maka metode tarbiyah Islamiyah pun cakupannya luas pula.7

A.      Fungsi Metode

Fungsi metode secara umum dapat dikemukakan sebagai pemberi jalan atau cara yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional dari ilmu pendidikan. Sedangkan dalam konteks lain metode dapat merupakan sarana untuk menemukan, menguji dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin suatu ilmu. Dari dua pendekatan ini segera dapat dilihat bahwa pada intinya metode berfungsi mengantarkan suatu tujuan kepada obyek sasaran dengan cara yang sesuai dengan perkembangan obyek sasaran tersebut. Dalam Al-Qur’an sebagaimana akan dijelaskan di bawah ini, metode dikenal sebagai sarana yang menyampaikan seseorang kepada tujuan penciptaannya sebagai khalifah  di muka bumi dengan melaksanakan pendekatan di mana manusia ditempatkan sebagai makhluk yang memiliki potensi rohaniah dan jasmaniah yang keduanya dapat digunakan saluran penyampaian materi pelajaran. Karenanya terdapat suatu prinsip umum dalam memfungsikan metode, yaitu prinsip agar pengajaran dapat disampaikan dalam suasana menyenangkan, menggembirakan, penuh dorongan, dan motivasi, sehingga pelajaran atau materi didikan itu dapat dengan mudah diberikan. Banyaknya metode yang ditawarkan para ahli sebagaimana dijumpai dalam buku-buku kependidikan lebih merupakan usaha mempermudah atau mencari jalan paling sesuai dengan perkembangan jiwa anak dalam menerima pelajaran.

Dalam menyampaikan materi pendidikan kepada peserta didik sebagaimana disebutkan di atas perlu ditetapkan metode yang didasarkan kepada pandangan dalam menghadapi manusia sesuai dengan unsur penciptaannya, yaitu jasmani, akal, dan jiwa yang dengan mengarahkannya agar menjadi orang yang sempurna. Karena itu materi-materi pendidikan yang disajikan oleh Al-Qur’an senantiasa mengarah kepada pengembangan jiwa, akal, dan jasmani manusia itu, hingga dijumpai ayat yang mengaitkan keterampilan dengan kekuasaan Tuhan, yaitu ayat yang berbunyi :

… وما رميت إذ رميت ولكنّ الله رمى … (الانفال : ۱٧

“Dan  bukanlah kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (QS. Al-Anfal [8]:17). (Depag RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, 1993)

Dengan demikian, jelaslah bahwa metode amat berfungsi dalam menyampaikan materi pendidikan. Namun, hal itu merupakan perspektif Al-Qur’an harus bertolak dari pandangan yang tepat terhadap manusia sebagai mahluk yang dapat dididik melalui pendekatan jasmani, jiwa, dan akal pikiran. Karena itu ada materi yang berkenaan dengan dimensi afektif, dan psikomotorik, dan ada materi yang berkenaan dengan dimensi kognitif yang kesemuanya itu menghendaki pendekatan metode yang berbeda-beda.

B. Macam-macam Metode

Dalam pendidikan Islam ada mata pelajaran agama Islam. Pengajaran agama Islam mencakup pembinaan ketrampilan, kognitif dan efektif. Nah, bagian afektif inilah yang amat rumit itu. Ini menyangkut pembinaan rasa iman, rasa beragama pada umumnya. Pembahasan metodologi untuk mendidik rasa beragama banyak pakar yang menawarkan metode-metode tersebut. Salah satunya adalah an-Nahlawi (1989).

Menurut an-Nahlawi – seperti dikutip oleh Ahamad Tafsir- (Tafsir : 135-147), dalam Al-Qur’an dan hadits dapat ditemukan berbagai metode pendidikan yang sangat menyentuh perasaan, mendidik jiwa, dan membangkitkan semangat. Metode-metode itu, katanya mampu menggugah puluhan ribu muslimin untuk membuka hati umat manusia menerima tuntunan Tuhan. 8 Metode dimaksud adalah :

1.             Metode hiwar (percakapan) Qur’ani dan Nabawi

2.             Metode kisah Qur’ani dan Nabawi

3.             Metode amtsal (perumpamaan) Qur’ani dan Nabawi

4.             Metode uswah hasanah (keteladanan)

5.             Metode pembiasaan

6.             Metode ‘ibrah dam mau’izah

7.             Metode targhib dan tarhib

Dengan metode-metode ini diharapkan kita bisa menanamkan rasa iman, rasa cinta kepada Allah, rasa nikmatnya beribadah (salat, puasa, dan lain-lain), rasa hormat pada orang tua, dan sebagainya. Hal ini agaknya sulit ditempuh dengan cara empiris dan logis. Di sini penyusun mencoba mencari alternatif yang mungkin lebih baik, yaitu mencobakan metode-metode yang menyentuh perasaan. Di sini kita mendidik bukan melewati akal tapi langsung masuk pada perasaan anak didik. Orang-orang di Pesantren telah melakukan cara ini. mereka mendidik atau menanamkan rasa beragama dengan membiasakan membaca wirid, aurad, puji-pujian, dengan contoh tingkah laku, dan sebagainya. Dan kelihatannya mereka cukup berhasil dalam usaha-usahanya itu. Di sekolah bagaimana? mari kita renungkan metode-metode yang ditawarkan an-Nahlawi berikut ini.

1. Metode Hiwar (percakapan) Qur’ani dan Nabawi

Hiwar (dialog) ialah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih mengenai suatu topik, dan dengan sengaja diarahkan pada suatu tujuan yang dikehendaki (dalam hal ini oleh guru). Dalam percakapan itu materi pembicaraan tidak dibatasi, bisa masalah agama, filsafat, sains dan lain-lain. Kadang-kadang pembicaraan sampai pada kesimpulan , kadang-kadang tidak ada kesimpulan karana salah satu fihak tidak puas terhadap pendapat pihak lain. Hiwar mempunyai pengaruh terhadap jiwa pendengar atau pembaca yang mengikuti topik pembicaraan secara serius dan penuh perhatian.  Hal ini disebabkan oleh beberapa hal :

Pertama, dialog berlangsung hidup dan dinamis kerena kedua belah pihak atau semua yang hadir terlibat langsung dalam pembicaraan; kedua belah pihak saling memperhatikan. Dan terus mengikuti pola pikir teman-temannya, sehinga dapat menghasilkan sesuatu yang baru, yang mungkin belum diketahui sebelumnya.

Kedua, Pendengar atau pembaca tertarik untuk mengikuti terus pembicaraan itu karena ia ingin tahu kesimpulannya. Ini biasanya diikuti dengan penuh perhatian dan semangat.

Ketiga, metode ini dapat membangkitkan perasaan dan menimbulkan kesan dalam jiwa, yang membantu mengarahkan seseorang menemukan sendiri kesimpulannya.

Keempat, hiwar dilakukan dengan baik, sopan santun, menghargai pendapat orang lain sehingga menimbulkan kesan yang baik pula diantara para peserta.

Menurt an-Nahlawi (1989:285) dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. terdapat berbagai jenis hiwar, seperti :

· Hiwar khitabi atau ta’abudi

· Hiwar washfi

· Hiwar qishashi (percakapan tentang sesuatu melalui kisah)

· Hiwar jadali, dan

· Hiwar Nabawi.

Hiwar khitabi atau ta’abbudi merupakan dialog yang diambil dari dialog antara Tuhan dan hamba-Nya. Tuhan memanggil hamba-Nya dengan mengatakan , “Wahai, orang-orang yang beriman, “dan hamba-Nya menjawab dalam kalbunya dengan mengatakan, “Kusambut panggilan Engkau, ya Rabbi. “Dialog antara Tuhan dan hamba-Nya ini menjadi petunjuk bahwa pengajaran seperti itu dapat kita gunakan, dengan kata lain, metode dialog merupakan metode pengajaran yang pernah digunakan Tuhan dalam mengajari hamba-Nya. Logikanya, kita pun dapat menggunakan dialog dalam pengajaran. Ada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huraerah yang menggambarkan dialog Rasulullah dengan Tuhannya.

… سمعت النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم يقول: قال الله تعالى: قسمت الصّلاة بينى وبين عبدي نصفين ولعبدي ما سأل. فاذا قال العبد: الحمد لله ربّ العلمين, قال الله تعالى حمدني عبدي. واذا قال: الرّحمن الرّحيم, قال الله تعالى اثنا عليّ عبدي. واذاقال ملك يوم الدّين, قال: مجّدني عبدي. (وقال مرّة: فوّض اليّ عبدي), واذا قال: ايّاك نعبد وايّاك نستعين قال: هذا بيني وبين عبدي ولعبدي ما سأل. فاذا قال اهدناالصّراط المستقيم صراط الّذين انعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولاالضّالّين, قال: هذا لعبدي ولعبدي ما سأل (رواه مسلم

Aku mendengar Nabi Saw. bersabda, “Allah ta’ala berfirman “. “Aku membagi shalat ke dalam dua bagian, untuk-Ku dan untuk hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku adalah apa yang dimintanya.” Apabila seorang hamba mengucapkan ‘Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, ‘maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ Apabila mengucapkan ‘Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,’ maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ Apabila mengucapkan  ‘Yang menguasai hari pembalasan,’ maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah mengagungkan Aku, dan suatu ketika berfirman : ‘Hamba-Ku telah berserah diri kepada-Ku.’Apabila mengucapkan : ‘Hanya kepada-Mu kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan, ‘maka berfirman : ‘Ini untuk-Ku dan untuk hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku adalah apa yang dia minta.’ Dan apabila mengucapkan  : Tunjukanlah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat dan bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai, bukan pula jalan orang-orang yang sesat, ‘maka berfirman, Ini untuk hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku adalah apa yang dia minta.” (HR. Muslim)9

Dalil lain yang menunjukan adanya hiwar ialah hadits berikut :

كان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم اذا قرأ اليس ذلك بقادر على ان يحيي الموتى؟ قال: سبحانك فبلى, واذا قرأ سبّح اسم ربّك الأعلى, قال: سبحان ربّي الأعلى (رواه البيهقي

Apabila Rasulullah saw. membaca “Bukanlah Allah Maha Kuasa menghidupkan orang mati ?” dia mengucapkan, Maha Suci Engkau Yang Maha Besar. “Dan bila dia membaca : “Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi, maka dia mengucapkan ‘Mahasuci Rabbku Yang Maha Tinggi.( HR. Abu Dawud dan Baihaqi).10

Kedua hadits di atas merupakan dalil adanya hiwar ta’abbudi, yaitu dialog tentang pengabdian kepada Tuhan.Tasbih, tahmid, takbir dan  ta’awwuz yang diucapkan Nabi kepada Tuhan jelas merupakan suatu munajat kepada Allah, sekaligus merupakan dalil adanya hiwar dalam hadits-hadits Rasulullah saw.

Melalui hiwar ta’abbudi atau khitabi, Al-Qur’an menanamkan hal-hal penting sebagai berikut :

a.       Agar tanggap terhadap persoalan yang diajukan Al-Qur’an, merenungkannya, menghadirkan jawaban sekurang-kurangnya dalam kalbu.

b.      Menghayati makna kandungan Al-Qur’an

c.       Mengarahkan tingkah laku agar sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an

d.      Menanamkan rasa bangga karena dipanggil oleh Tuhan, “Hai, orang-orang yang beriman …”.

Dalam hiwar khitabi ini dialog dimulai dari pihak kesatu, yaitu sipembicara, sedangkan pihak kedua yang menyambutnya memperhatikan dengan emosinya, lalu terpanggil untuk menyambutnya dengan pikiran dan perasaannya.

Adapun hiwar washfi ialah dialog antara Tuhan dengan malaikat atau mahluk gaib lainnya. Dalam surat as-Shaffat ayat 20-23 ada dialog antara Tuhan dengan penghuni neraka :

وقالوا يويلنا هذا يوم الدّين, هذا يوم الفصل الّذي كنتم به تكذّبون, اخشرواالّذين ظلموا وازواجهم وما كانو يعبدون من دون الله فاهدوهم الى صراط الجحيم (الصفت ٢٠-٢٣

Dan mereka berkata : ‘Aduhai celakalah kita ! Inilah hari pembalasan. Inilah hari keputusan yang kalian selalu mendustakannya. (Kepada malaikat diperintahkan) : kumpulkanlah orang-orang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah. Maka tunjukanlah kepada mereka jalan ke neraka”. (QS. As-Shaffat [37]:20-23) (Depag RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, 1993)

Di sini Allah berdialog dengan malaikat. Topik pembicaraannya tentang orang-orang zalim. Dalam surat as-Shaffat ayat 27-28 :

واقبل بعضهم على بعض يّتسآءلون, قالوآ انّكم كنتم تأتوننا عن اليمين (الصفت ٢٧-٢۸

Sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka) : ‘Sesunguhnya kalianlah yang datang kepada kami dari kanan”.(QS. As-Shaffat [37]:27-28). (Depag RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, 1993)

Para pemimpin kezaliman hendak berlepas diri dari tanggung jawab, seraya berkata :

قالوا بل لم تكونوا مؤمنين, وما كان لنا عليكم من سلطن بل كنتم قوما طغين, فحقّ علينا قول ربّنآ انّا لذآئقون فأغوينكم انّا كنّا غوين (الصفت ٢۹-۳٢

Pemimpin-pemimpin mereka menjawab : ‘Sebenarnya kalianlah yang tidak beriman, dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadap kalian, bahkan kalianlah kaum yang melampaui batas, maka pastilah putusan (adzab) Rabb kita menimpa atas kita. Sesungguhnya kita akan merasakan (adzab itu). Maka kami telah menyesatkan kalian, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat”. (QS. As-Shaffat [37]:29-32). (Depag RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, 1993)

Menurut an-Nahlawi (1989:309) hiwar washfi menyajikan kepada kita gambaran yang hidup tentang kondisi psikis ahli neraka dan ahli surga. Dengan imajinasi dan deskripsi yang rinci, hiwar washfi memperlancar berlangsungnya pendidikan perasaan ketuhanan. Gambaran tentang penyesalan ahli neraka itu seolah-olah dirasakan oleh pembaca atau pendengar dialog itu; pendengar itu seolah-olah terlibat dalam dialogi tersebut. Lantas ada pemihakan. Kemudian dipihak mana aku ? Hiwar washfi seolah-olah mengingatkan pendengar dialog itu, ‘jangan kalian terjerumus seperti mereka itu. Dialog juga terjadi antara ahli surga, seperti yang tercantum dalam surat as-Shaffat ayat 50-57 sebagai berikut.

فأقبل بعضهم على بعض يّتسآءلون, قال قائل منهم انّي كان لى قرين, يقول ائِنّك لمن المصدّقين, ءاذا متنا وكنّا ترابا وعظاما ءانّا لمدينون قال هل انتم مطّلعون, فاطّلع فرآه في سوآء الجحيم, قال تالله ان كدتّ لتردين, ولولا نعمة ربّي لكنتُ من المحضرين (الصفت ٥٠-۵۷

“Lalu sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang diantara mereka: “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia mempunyai seorang teman), yang berkata: “Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit) ?. apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang  apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan untuk diberi pembalasan) ?. “ berkata pulalah ia : “maukah kamu meninjau (tempatku itu) ? “ maka ia meninjaunya lalu dia melihat temannya itu ditengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata (pula: demi Allah sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakan, jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka) (As-Shafat [37] 50-57) (Depag RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, 1993)

Hiwar qishashi terdapat dalam Al-Qur’an, yang baik bentuk maupun rangkaian ceritanya sangat jelas, merupakan bagian dari uslub kisah dalam Al-Qur’an. Kalaupun di sana kisah yang keseluruhannya merupakan dialog langsung, yang sekarang disebut sandiwara, hiwar ini tidak dimaksudkan sebagai sandiwara. Sebagai contoh adalah kisah Syu’aib dan kaumnya dalam surat Hud. Sepuluh ayat pertama dari surat ini merupakan hiwar (dialog), kemudian Allah mengakhiri kisah ini dengan dua ayat yang menerangkan akibat yang diterima oleh kaum Nabi Syu’aib.Mari kita lihat terjemahan sebagian dari surat Hud ayat 84-95 :

Dan kepada penduduk Madyan Kami utus Syu’aib. Ia berkata, “Hai, kaumku, beribadahlah kepada Allah, jangan bertuhan selain-Nya… Jangan mengurangi timbangan, saya khawatir nanti kalian mendapat azab dari Tuhan.” …. Mereka berkata, “hai, Syu’aib, apakah kamu menyuruh kami meninggalkan apa yang disembah oleh pimpinan kami atau melarang kami berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami ? “Syu’aib berkata-kata, Hai, kaumku…. (dan seterusnya). Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamanya…, dan orang-orang yang zalim itu dibinasakan oleh suara yang mengguntur…. Ingatlah, kebinasaanlah yang ditimpakan kepada penduduk Madyan seperti binasanya kaum Tsmaud (Hud :84-95).

Hiwar seperti ini banyak ditemukan dalam Al-Qur’an. Hiwar ini dapat berpengaruh pada kejiwaan pendengarnya.Hal itu disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :

a.      Kekuatan hiwar ini terletak pada pengisyaratan, yaitu pengisyaratan agar tidak memihak kepada orang zalim; alasan orang zalim itu lemah.

b.      Hiwar ini membawakan alasan yang kuat, yaitu alasan yang datang dari Nabi dan dari Tuhan; alasan ini mengalahkan alasan orang zalim.

c.      Hiwar ini mengisahkan dialog secara berseling. Ini akan menajamkan persoalan yang didialogkan sehingga terjalin kisah panjang yang kuat alur ceritanya.

Dengan hiwar ini diharapkan para pelajar memihak kepada yang benar dan membenci pihak yang salah.

Hiwar jadali bertujuan untuk memantapkan hujjah (alasan). Contohnya antara lain dalam surat an-Najm [53] [1-5]:

والنّجم اذا هوى, ما ضلّ صاحبكم وما غوى, وما ينطق عن الهوى, ان هو الاّ وحي يّوحى علّمه شديد القوى (النجم ۱-٥

“Demi bintang ketika terbenam, kawan kalian (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu adalah wahyu yang diberikan kepadanya yang diajarkan oleh Jibril yang perkasa. (surat an-Najm [53] 1-5) (Depag RI, Al-Qur’an dan trjemahnya, 1993)

Dalam ayat ke 10-18 surat yang sama, Allah menetapkan hujjah (alasan) yang ditujukan kepada orang-orang musyrik bahwa rasul-Nya menyampaikan berita benar, melalui suatu penglihatan yang nyata. Muhammad itu tidak berdusta dengan dikuatkan oleh Allah dengan memperlihatkan tanda-tanda yang nyata kepada Muhammad. Adapun pada penggalan lain rangkaian ayat ini, yaitu ayat 19-20, dibandingkan oleh Allah kekuatan yang dibawa Muhammad dan kekuatan alasan orang musyrik. Orang musyrik itu beralasan dengan mengajukan tuhan-tuhan (berhala-berhala) mereka:

افرأيتم اللت والعزّى ومنوة الثالثة الاخرى

Apakah patut kalian (orang musyrik) menganggap al-lata dan al-uzza dan manat yang ketiga (sebagai sembahan yang benar) ?. Depag RI, Al-Qur’an dan trjemahnya, 1993

Memang terasa bahwa alasan Muhammad lebih kuat dari pada alasan orang yang mengingkarinya. Kemudian, bila diteruskan kepada ayat 21-23 surat an-Najm itu, akan jelas kelihatan pikiran orang-orang musyrik itu. Kemudian Allah menunjukan tingkat pemikiran mereka itu; pikiran mereka itu tidak menghasilkan apa-apa:

ان يّتّبعون الاّ الظّنّ وما تهوى الانفس ولقد جاءهم مّن رّبّهم الهدى (النجم ٢٣

“Mereka tidak lain kecuali;  mengikuti sangkaan-sangkaan dan mengikuti kehendak hawa nafsu mereka, padahal petunjuk dari Tuhan telah datang”. (Depag RI, Al-Qur’an dan trjemahnya, 1993)

Hiwar jadali mempunyai implikasi pedagogis sebagai berikut:

a.      Mendidik orang menegakkan kebenaran dengan menggunakan hujjah yang kuat.

b.      Dengan alasan yang kuat, mendidik orang menolak kebatilan karena pikiran itu rendah.

c.      Mendidik orang menggunakan pikiran yang sehat.

Hiwar Nabawi adalah hiwar yang digunakan para Nabi dalam mendidik sahabat-sahabatnya. Dia menghendaki agar sahabatnya mengajukan pertanyaan.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim disebutkan:

كان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يوما بارزا للنّاس, وفي رواية قال رسول الله سلوني فهابوه ان يّسألوه فجاء رجل فجلس عند ركبتيه فقال يا رسول الله ماالاسلام ؟ قال : لا تشرك بالله شيئا وتقيم الصلاة وتؤتي الزّكاة وتصوم رمضان. قال: صدقت… الحديث (رواه البخاري ومسلم

“Pada suatu hari Rasulullah saw. menampakkan dirinya kepada orang banyak. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa dia bersabda , “Bertanyalah kepadaku.” Orang-orang takut untuk bertanya kepadanya. Maka datanglah seorang laki-laki, lalu duduk dihadapannya seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Islam itu ? Dia menjawab, “Engkau tidak menyekutukan Allah…,” (dan seterusnya).

Dari hadits ini kita mengetahui :dianjurkan kepada guru-guru agar mendorong murid-muridnya untuk beratanya.

Metode ini menarik perhatian para Sahabat karena sering sekali Jibril datang kepada Nabi Muhammad bertanya. Setelah Jibril itu pergi, rasul mengatakan bahwa itu adalah Jibril, datang untuk mengajari mereka. Memang ayat 101 surat al-Maidah melarang orang bertanya , yaitu tentang hal-hal yang bila ditanyakan akan menyusahkan. Oleh karena itu, datanglah Jibril untuk menjelaskan bolehnya bertanya apabila dimaksudkan untuk mengambil manfaat seperti untuk mengajar.

Dari uraian ini kita mengetahui bahwa metode hiwar adalah metode pendidikan Islami, terutama untuk menanamkan rasa iman, yaitu pendidikan rasa (afektif).

2. Metode kisah Qur’ani dan Nabawi

Dalam pendidikan Islam, terutama pendidikan agama Islam (sebagai suatu mata pelajaran), kisah sebagai metode pendidikan  amat penting. Dikatakan amat penting, alasannya antara lain :

a.      Kisah selalu memikat karena mengundang pembaca  atau pendengar untuk mengikuti peristiwanya, merenungkan maknanya. Selanjutnya, makna-makna itu akan menimbulkan kesan dalam hati pembaca atau pendengar tersebut.

b.      Kisah Qur’ani dan Nabawi dapat menyentuh hati manusia karena kisah itu menampilkan tokoh dan konteksnya yang menyeluruh. Karena tokoh cerita ditampilkan dalam konteks yang menyeluruh, pembaca atau pendengar dapat ikut menghayati atau merasakan isi kisah itu, seolah-olah ia sendiri yang menjadi tokohnya. Kisah itu, sekalipun menyeluruh, terasa wajar, tidak menjijikan pendengar atau pembaca. Bacalah kisah Yusuf, misalnya. Inilah salah satu keistimewaan kisah Qur’ani, tidak sama dengan kisah-kisah yang ditulis orang sekarang yang isinya banyak ikut mengotori hati pembacanya.

c.    Kisah Qur’ani mendidik perasaan keimanan dengan cara :

1)        membangkitkan berbagai perasaan seperti khauf, raja, rida dan cinta;

2)        mengarahkan seluruh perasaan sehingga bertumpuk pada suatu puncak, yaitu kesimpulan kisah;

3)        melibatkan pembaca atau pendengar ke dalam kisah itu sehingga ia terlibat secara emosional.

Kisah Qur’ani bukanlah hanya semata kisah atau semata-mata karya seni yang indah; ia juga suatu cara Tuhan mendidik umat agar beriman kepada-Nya. Jika diringkaskan, tujuan kisah Qur’ani adalah sebagai berikut :

1)     Mengungkapkan kemantapan wahyu dan risalah. Mewujudkan rasa mantap dalam menerima Qur’an dan keputusan Rasul-Nya. Kisah-kisah itu menjadi bukti  kebenaran wahyu dan kebenaran Rasul saw.

2)     Menjelaskan bahwa secara keseluruhan. ad-din itu datangnya dari Allah

3)     Menjelaskan bahwa Allah menolong dan mencintai rasul-Nya; menjelaskan bahwa kaum mukmin adalah umat yang satu, dan Allah adalah Rabb mereka.

4)     Kisah-kisah itu bertujuan menguatkan keimanan kaum muslimin, yang menghibur mereka  dari kesedihan atas musibah yang menimpa.

5)     Mengingatkan bahwa musuh orang mukmin  adalah setan, Menunjukan permusuhan abadi  itu lewat kisah  akan tampak lebih hidup dan jelas.

Ditinjau dari dampak paedagogis, kisah Nabawi tidak berbeda dari kisah Qur’ani di atas. Akan tetapi, bila ditinjau secara mendalam, ternyata kisah nabawi berisi rincian yang lebih khusus seperti menjelaskan pentingnya keikhlasan dalam beramal, menganjurkan bersedekah dan mensyukuri nikmat Allah. Pokoknya kisah nabawi kebanyakan merupakan rincian yang lebih khusus dari ajaran Islam.

3. Metode amtsal (Perumpamaan)

Adakalanya Tuhan mengajari umat dengan membuat perumpamaan, misalnya dalam surat al-Baqarah ayat 17:

مثلهم كمثل الّذي استوقد نارا فلمّا اضاءت ما حوله ذهب الله بنورهم وتركهم فى ظلمت لاّيبصرون (البقرة: ۱۷

“Perumpamaan orang-orang kafir itu adalah seperti yang menyalakan api” (surat al-Baqarah [1] 17) (Depag RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, 1993)

….Dalam surat al-Ankabut ayat 41 Allah mengumpamakan sesembahan atau tuhan orang kafir  dengan sarang laba-laba [29] [41]:

مثل الّذين اتّخذوا من دون الله اوليآء كمثل العنكبوت اتّخذت بيتا وانّ اوهن البيوت لبيت العنكبوت لوكانوا يعلمون (العنكبوت ۴۱

Cara seperti itu dapat juga digunakan oleh guru dalam mengajar. Pengungkapannya tentu saja sama dengan metode kisah, yaitu dengan berceramah atau membaca teks. Kebaikan metode ini antara lain adalah sebagai berikut :

a.      Mempermudah siswa memahami konsep yang abstrak, ini terjadi karena perumpamaan itu mengambil benda kongkrit seperti kelemahan tuhan orang kafir diumpamakan dengan sarang laba-laba. Sarang laba-laba memang lemah sekali, disentuh dengan lidipun bisa rusak. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim Nabi mengumpamakan “harga” dunia ini dengan anak kambing yang bertelinga kecil dan sudah mati : dari Jabir diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. sedang lewat disebuah pasar. Ada seekor anak kambing bertelinga kecil yang sudah mati, lalu diangkatnya telinga anak kambing itu seraya berkata, “ siapa di antara kalian yang ingin memiliki anak kambing ini dengan membayar satu dirham ?” Orang-orang menjawab, “ Kami tidak sudi membeli anak kambing itu dengan membayar sesuatu. Apa manfaatnya ? “ Ia bertanya lagi, “Atau barangkali kalian ingin memilikinya secara gratis ?” Mereka menjawab, “ demi Allah, sekalipun anak kambing itu masih hidup, kami tak ingin memilikinya karena cacat pada telinganya, apalagi sudah mati.” Maka Rasulullah saw. bersabda, “ demi Allah, sesungguhnya bagi Allah dunia ini lebih hina dari pada anak kambing ini bagi kalian”.

b.      Perumpamaan dapat merangsang kesan terhadap makna yang tersirat dalam perumpamaan tersebut. Dalam hal ini Abduh mengatakan, tak kala menafsirkan kata darb dalam surat al Baqarah ayat 26, “penggunaan kata darb dimaksudkan untuk mempengaruhi dan membangkitkan kesan, seakan-akan sipembuat perumpamaan menjewer telinga pembaca dengannya sehingga pengaruh jeweran itu meresap ke dalam kalbu”.

c.      Merupakan pendidikan agar bila menggunakan perumpamaan haruslah logis, mudah dipahami. Jangan sampai dengan menggunakan perumpamaan malah pengertiannya kabur atau hilang sama sekali. Perumpamaan harus memperjelas konsep, bukan sebaliknya. Keistimewaan perumpamaan dalam Al-Qur’an ialah natijah (Konklusi) Silogismenya justru tidak disebutkan, yang disebutkan hanya premis-premisnya. Ini hebat karena begitu jelas kongklusinya sampai-sampai tidak disebutkanpun, kongklusi itu dapat ditangkap pengertiannya. Biasanya silogisme selalu menyebutkan konklusi setelah premis. Kongklusi silogisme dari Allah (perumpamaan itu) kebanyakan harus ditebak sendiri oleh pendengar atau pembaca. Allah tahu manusia dapat menebaknya.

d.      Amtsal Qur’ani dan Nabawi memberikan motivasi kepada pendengarnya untuk berbuat amal baik dan menjauhi kejahatan. Jelas hal ini amat penting dalam pendidikan Islam.

4. Metode Teladan

Kita mungkin saja dapat menyusun sistem pendidikan yang lengkap, tetapi semua itu masih memerlukan realisasi, dan realisasi itu dilaksanakan oleh pendidik. Pelaksanaan realisasi itu memerlukan seperangkat metode, metode itu merupakan pedoman untuk bertindak dalam merealisasikan tujuan pendidikan. Pedoman itu memang diperlukan karena pendidik tidak dapat bertindak secara alamiah saja. Agar tindakan pendidikan dapat dilakukan lebih efektif dan lebih efisien. Di sinilah teladan merupakan salah satu pedoman bertindak.

Murid-murid cenderung meneledani pendidiknya, ini diakui oleh semua ahli pendidikan, baik dari Barat maupun dari Timur. Dasarnya ialah karena secara psikologis anak memang senang meniru, tidak saja yang baik, yang jelekpun ditirunya. Sifat anak didik itu diakui dalam Islam. Umat meneladani nabi, nabi meneladani Al-Qur’an. Aisyah pernah berkata bahwa akhlak Rasul Allah itu adalah Al-Qur’an. كان خلقه القرآن

Pribadi rasul itu adalah intrepretasi Al-Qur’an secara nyata. Tidak hanya caranya beribadah, cara berkehidupan sehari-haripun kebanyakan merupakan contoh cara berkehidupan Islam. Contoh-contoh dari rasul itu kadang-kadang amat asing bagi manusia ketika itu. Contohnya, Allah menyuruh Rasulnya mengawini bekas istri Zaid, Zaid itu anak angkat rasul. Ini ganjil bagi orang Arab ketika itu. Dengan itu Allah memberikan teladan secara praktis yang berisi ajaran bahwa anak angkat bukanlah anak kandung, bekas istri anak angkat boleh dikawini.

… فلمّا قضى زيد منها وطرا زوّجناكها لكي لا يكون على المؤمنين حرج في ازواج ادعيآ ئهم اذا قضوا منهنّ وطرا وكان امر الله مفعولا( الاحزاب 36-39.

“Maka tatkala Zaid telah menceraikan istrinya, Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi mukmin untuk mengawini bekas istri anak angkat mereka.” Al-Ahzab [33] [37]. (Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 1993)

Banyak contoh yang diberikan oleh Allah yang menjelaskan bahwa orang (dalam hal ini terutama guru) jangan hanya berbicara, tetapi juga harus memberikan contoh secara langsung. Dalam peperangan, nabi tidak hanya memegang komando, dia juga ikut perang, menggali parit perlindungan. Dia juga menjahit sepatunya, pergi berbelanja ke Pasar dan lain-lain.

Dari uraian di atas, apa yang dapat kita ambil bagi perkembangan teori pendidikan Islam ? Ada beberapa konsep yang dapat dipetik dari sana :

a.      Metode pendidikan Islam berpusat pada keteladanan. Yang memberikan teladan itu adalah guru, Kepala sekolah, dan semua aparat sekolah. Dalam pendidikan masyarakat, teladan itu adalah para pemimpin masyarakat, para da’i. Konsep ini jelas diajarkan oleh Rasul saw. seperti diuraikan di atas.

b.      Teladan untuk guru (dan lain-lain) ialah Rasulullah. Guru tidak boleh mengambil tokoh yang diteladani selain rasul Allah saw. Sebab rasul itulah teladan yang terbaik. Rasul meneladankan bagaimana kehidupan yang dikehendaki Tuhan karena rasul itu adalah penafsir ajaran Tuhan. Secara psikologis ternyata manusia memang memerlukan tokoh teladan dalam hidupnya, ini adalah sifat pembawaan. Taklid (meniru) adalah salah satu sifat pembawaan manusia. Peneladanan itu ada dua macam, yaitu sengaja dan tidak sengaja. Keteladanan yang tidak sengaja adalah keteladanan dalam keilmuan, kepemimpinan, sifat keikhlasan dan sebangsanya, sedangkan keteladanan yang disengaja adalah seperti memberikan contoh yang baik, mengerajakan shalat yang benar (Nabi berkata) :  صلّوا كما رأيتموني اصلّي (رواه البخاري)“Shalatlah kamu sebagaimana shalatku (Bukhori). Keteladanan yang disengaja adalah keteladanan yang memang diserta penjelasan atau perintah agar meneladani. Dalam pendidikan Islam  kedua keteladanan itu sama saja pentingnya. Keteladanan yang tidak disengaja dilakukan secara tidak formal, yang sengaja dilakukan secara formal. Keteladanan yang dilakukan tidak formal itu kadang-kadang kegunaannya lebih besar dari pada kegunaan keteladanan formal.

5. Metode Pembiasaan

Pembiasaan sebenarnya berintikan pengalaman. Apa yang dibiasakan ? Yang dibiasakan itu adalah sesuatu yang diamalkan. Oleh karena itu uraian tentang pembiasaan selalu menjadi satu dengan uraian tentang perlunya mengamalkan kebaikan yang telah diketahui. Inti pembiasaan ialah pengulangan. Jika guru setiap masuk kelas mengucapkan salam, itu telah dapat dikatakan sebagai usaha membiasakan. Bila murid masuk kelas tidak mengucapkan salam, maka guru mengingatkan agar, bila masuk ruangan hendaklah mengucapkan salam, ini juga satu cara membiasakan.

Dalam pembinaan sikap, metode pembiasaan sebenarnya cukup efektif. Lihatlah pembiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah, perhatikanlah orang tua kita mendidik anaknya. Anak-anak yang dibiasakan bangun pagi, akan bangun pagi sebagai suatu kebiasaan, kebiasaan itu (bangun pagi) ajaibnya juga mempengaruhi jalan hidupnya. Dalam mengerjakan pekerjaan lainpun ia cenderung “pagi-pagi”, bahkan “sepagi mungkin”. Orang yang biasa bersih akan memiliki sifat bersih, ajaibnya ia juga bersih hatinya, bersih juga pikirannya. Karena melihat inilah ahli-ahli pendidikan semuanya sepakat untuk mebenarkan pembiasaan sebagai salah satu upaya pendidikan yang baik dalam pembentukan manusia dewasa.

Ajaibnya lagi, pembiasaan tidak hanya perlu bagi anak-anak yang masih kecil. Tidak hanya perlu di Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar. Di Perguruan Tinggipun pembiasaan masih diperlukan. Pembiasaan merupakan metode pendidikan yang jitu, tetapi sayangnya kita tidak mampu menjelaskan mengapa pembiasaan itu amat besar pengaruhnya pada pembentukan pribadi seseorang. Ternyata pembiasaan tidak hanya mengenai yang batini, tetapi juga lahiri. Orang yang biasa memegang stir, lebih baik menyetir ketimbang orang yang menguasai teorinya, tetapi jarang membawa mobil. Pepatah mengatakan, “alah bisa karena biasa”. Berarti bahwa orang yang telah terbiasa dapat mengalahkan orang yang lebih mengetahui tetapi kurang terbiasa.

Kadang-kadang ada kritik terhadap pendidikan dengan pembiasaan karena cara ini tidak mendidik siswa untuk menyadari dengan analisis apa yang dilakukannya. Kelakuanya berlaku secara otomatis tanpa ia mengatahui baik buruknya. Memang benar. Sekalipun demikian tetap saja metode pembiasaan sangat baik digunakan karena yang kita biasakan adalah yang benar. Kita tidak boleh membiasakan anak-anak kita melakukakan atau berprilaku yang buruk, .ini perlu disadari oleh guru sebab perilaku guru yang berulang-ulang sekalipun  hanya dilakukan secara main-main , akan mempengaruhi anak didik untuk membiasakan prilaku itu. Metode pembiasaan berjalan bersama-sama dengan metode keteladanan, sebab pembiasaan itu dicontohkan oleh guru.

Karena pembiasaan berintikan pengulangan, maka metode pembiasaan juga berguna untuk menguatkan hafalan. Rasulullah saw. berulang-ulang berdo’a dengan doa yang sama. Akibatnya dia hapal benar doa itu, dan sahabatnya yang mendengarkan doa yang berulang-ulang itu juga hapal doa itu.

6. Metode ‘Ibrah dan Mau’izah

An-Nahlawi sudah meneliti pengertian kedua kata itu. Menurut pendapatnya kedua kata itu mempunyai perbedaan dari segi makna. ‘Ibrah dan I’tibar ialah suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia kepada intisari sesuatu  yang disaksikan, yang dihadapi, dengan menggunakan nalar, yang menyebabkan hati mengakuinya (1989:390). Adapun mauizah ialah nasihat yang lembut yang diterima oleh hati dengan cara menjelaskan pahala atau ancamannya (h. 403).

Penggunaan ‘Ibrah dalam Qur’an dan sunnah ternyata berbeda-beda sesuai dengan objek ‘ibrah itu sendiri. Pengambilan ‘ibrah  dari kisah hanya akan dapat dicapai oleh orang-orang yang berpikir dengan akal dan hatinya seperti firman Allah sebagai berikut :

لقد كان في قصصهم عبرة لأولى الالباب ماكان حديثا يّفترى ولكن تصديق الّذي بين يديه وتفصيل كلّ شيئ وّهدى وّرحمة لّقوم يّؤمنون (يوسف : ۱۱۱

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Isi Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan membenarkan kitab-kitab sebelumnya  dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman” (Yusuf :111). (Depag RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, 1993)

Esensi Ibrah dalam kisah ini ialah bahwa Allah berkuasa menyelamatkan Yusuf setelah dilemparkan kedalam sumur yang gelap, meninggikan kedudukannya setelah dijebloskan ke dalam penjara dengan cara menjadikannya raja Mesir setelah dijual sebagai hamba (budak). Kisah ini menjelaskan kekuasan Tuhan. Allah mengatakan bahwa Ibrah (pelajaran) dari kisah ini hanya dapat dipahami oleh orang orang ynag disebut ulul albab, yaitu orang yang berpikir dan berzkir.

Pendidikan Islam memberikan perhatian khusus kepada metode ‘Ibrah agar pelajar dapat mengambilnya dari kisah-kisah dalam Al-Qur’an, sebab kisah-kisah itu bukan sekedar sejarah, melainkan sengaja diceritakan Tuhan karena ada pelajaran (‘Ibrah), yang penting didalamnya. Pendidik dalam pendidikan Islam harus memanfatkan metode ini.

Rasyid Ridla, tatkala menafsirkan surat Al-Baqarah ayat 232 menyimpulkan bahwa mauizah adalah nasihat dengan cara menyentuh qalbu (lihat al-Nahlawi, 1989 : 403). Kata Wa’z itu dapat berarti bermacam-macam.

Pertama berarti nasihat, yaitu sajian bahasan tentang kebenaran dengan maksud mengajak orang dinasihati mengamalkannya. Nasihat yang baik itu harus bersumber pada yang Maha Baik yaitu Allah. Yang menasehati harus lepas dari kepentingan dirinya secara bendawi dan duniawi. Ia harus ikhlas karena semata menjalankan perintah Allah dan aku tidak benar-benar meminta upah kepada kalian atas ajakan itu, upahku ada dari Allah Rabb semesta alam. (as-Syu’ara : 109, 127, 145, 164, 180).

وما اسئلكم عليه من اجر ان اجري الاّ على ربّ العلمين (الشعرا: ۱٠۹

Ayat ini diulang lima kali, hanya dalam surat ini, untuk menegaskan pentingnya keiklaasan dalam memberikan nasihat (mauizah). Keikhlasan itu menyangkut persoalan pedagogis. Nasehat yang disampaikan secara ikhlas akan lebih.”mujarab” dalam tanggapan pendengarnya. Nasihat yang tidak ikhlas tidak akan diterima oleh pendengar. Nasihat yang tidak ikhlas itu seolah-olah masuk dari telinga kiri ke luar dari telinga kanan. Entah mengapa begitu, sulit sekali dijelaskan.

Kedua, mauizah berarti tazkir (peringatan) yang memberi nasihat hendaknya berulang kali mengingatkan agar nasihat itu meninggalkan kesan sehingga orang yang dinasihati tergerak untuk mengikuti nasihat itu. Sekarang kedua pengertian ini harus digabungkan: nasihat itu harus ikhlas dan disampaikan berulang-ulang. Bila dilakukan demikian. Akan timbul dari pendengar, orang yang menashati itu memang mempunyai keprihatinan yang dalam terhadap nasib pendengarnya.

Tadi dikatakan bahwa nasihat (mauizah) hendaknya disampaikan dengan cara menyentuh kalbu itu tidak mudah akan tetapi, dengan keikhlasan dan berulang-ulang, akhirnya nasihat itu akan dirasakan menyentuh kalbu pendengarnya. Dalam hadits diceritakan:

وعظنا رسول الله صلّى الله عليه وسلّم موعظة وجلت منها القلوب ودرفت منها العيون فقلنا يا رسول الله كأنّها موعظة مّودع فاوصنا…

“Rasululah saw. menasihati kami dengan nasihat yang menyentuh, yang membuat hati kami bergetar, dan karenanya hati kami mengeluarkan air mata. Maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, seakan-akan ia merupakan nasihat orang yang menitipkan. Maka wasiatkanlah kepada kami.” (hadis, lihat al-Nahlawi, 1989:410)

Nasihat yang menggetarkan hanya mungkin bila “

-         yang memeberi nasihat merasa terlibat dalam isi nasihat itu, jadi ia serius dalam memberi nasihat.

-         Yang menasihati harus merasa prihatin terhadap nasib orang yang dinasihati.

-         Yang menasihati harus ikhlas, artinya lepas dari kepentingan pribadi secara duniawi.

-         Yang memberi nasihat harus berulang-ulang melakukannya.

Secara teori, nasihat yang menggetarkan hati haruslah nasihat dengan mengunakan bahasa yang menyentuh hati. Akan tetapi, itu tidak mudah. Secara operasional, nasihat akan dirasakan menggetarkan hati bila dilakukan dengan cara seperti di sebut di atas itu : prihatin, ikhlas, dan berulang-ulang.

7. Metode Targhib dan  Tarhib

Targhib ialah janji terhadap kesenangan, kenikmatan akhirat yang disertai bujukan. Tarhib ialah ancaman karena dosa yang dilakukan. Targhib bertujuan agar orang mematuhi peraturan Allah, tarhib demikian juga. Akan tetapi, tekanannya ialah targhib agar melakukan kebaikan, sedangkan tarhib agar menjauhi kejahatan.

Metode ini didasarkan atas fitrah (sifat kejiwaan) manusia, yaitu sifat keinginan kepada kesenangan keselamatan, dan tidak mengingatkan kepedihan, kesengsaraan.

Targhib dan tarhib dalam pendidikan Islam berbeda dari metode ganjaran dan hukuman dalam pendidikan Barat. Perbedaan utamanya ialah targhib dan tarhib bersandarkan ajaran Allah, sedangkan ganjaran dan hukuman bersandarkan hukuman dan ganjaran duniawi. Perbedaan itu mempunyai implikasi yang penting :

a.      Targhib dan tarhib lebih teguh karena akarnya berada di langit (transenden), sedangkan teori hukuman dan ganjaran hanya bersandarkan sesuatu yang duniawi. Targhib dan tarhib itu mengandung aspek iman, sedangkan metode hukuman dan ganjaran tidak mengandung aspek iman. Oleh karena itu, targhib dan tarhib lebih kuat pengaruhnya.

b.      Secara operasional, targhib dan tarhib lebih mudah dilaksanakan daripada metode hukuman dan ganjaran karena materi targhib dan tarhib sudah ada dalam Al-Qur’an dan Hadis Nabi, sedangkan hikuman dan ganjaran dalam metode Barat harus ditemukan sendiri oleh guru.

c.      Targhib dan tarhib lebih universal, dapat digunakan kepada siapa saja; sedangkan jenis hukuman dan ganjaran harus disesuaikan dengan orang tertentu dan tempat tertentu.

d.      Dipihak lain, targhib dan tarhib lebih lemah daripada hukuman dan ganjaran karena hukuman dan ganjaran lebih nyata langsung waktu itu juga, sedangkan pembuktian targhib dan tarhib kebanyakan gaib dan diterima nanti (di akhirat).

Sampai di sini telah selesai dibicarakan tujuh metode pendidikan Islami yang pada dasarnya diambil dari buku an-Nahlawi yang berjudul Prinsip-prinsip dan  Metode Pendidikan Islam (1989). Metode-metode itu terutama diperlukan dalam pendidikan keimanan yang memang merupakan inti dalam pendidikan Islam. Bagi pembaca Indonesia, metode-metode ini barangkali berguna bagi pendidikan keimanan dalam rumah tangga, di sekolah, dan di lembaga-lembaga pendidikan lain.

Pada bagian permulaan bab ini telah dikatakan bahwa pendidikan keagamaan pada segi psikomotor dan kognitif sekarang ini tidak menghadapi masalah yang gawat. Metode-metode pengajaran yang digunakan oleh orang Barat pada dasarnya dapat digunakan oleh guru-guru di sekolah Islam atau guru agama di sekolah umum. Untuk pendidikan segi afektif, dalam pendidikan agama Islam yang berupa pendidikan rasa iman, metode-metode yang tujuh macam di atas nampaknya dapat digunakan.

C.      Teknologi Pendidikan dan Metode Pendidikan Islam

Gagasan mengenai metode-metode pendidikan Islam seperti telah diutarakan di atas dalam aflikasinya perlu ditunjang dengan teknologi. Di kalangan praktisi pendidikan tampaknya masih ada kekeliruan pandangan terhadap teknologi ini. Teknologi tidak harus selalu berarti perangkat keras (Hardware) saja. Setiap teknologi melibatkan perangkat lunaknya.  Beberapa teknologi mungkin hampir sepenuhnya perangkat lunak (Software).

Ada dua definisi teknologi pendidikan/pengajaran. Pertama, teknologi adalah media pengajaran yang lahir karena revolusi komunikasi. Media yang dimaksud mencakup antara lain TV, film, proyektor, komputer,  dan perangkat lunak pendukungnya. Definisi ini jelas menekankan perangkat keras yakni aspek mesin dalam proses belajar mengajar. Kedua, teknologi pengajaran adalah cara yang sistematis dalam mendesain, mengorganisir, mengatur dan mengevaluasi sumber-sumber manusiawi dan non manusiawi dalam keseluruhan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan.

Bagi para pelaku pendidikan tampaknya definisi kedua ini lebih mendasar dan bermakna daripada definisi pertama. Bagi pendidikan, implikasi teknologi sebagai tindakan sistematis jauh berbeda dengan implikasi teknologi sebagai media ajar atau peralatan pengajaran. Jika definisi pertama yang dijadikan pegangan, maka praktek pendidikan mungkin hanya ditandai dengan diluncurkannya sejumlah media ajar ke dalam arena belajar mengajar, tanpa ada perubahan dalam strukutur program. Dalam situasi semacam ini, ada tidak adanya media ajar tidak berpengaruh pada hasil belajar artinya teknologi tidak berhasil guna.

Pendekatan sistem terhadap teknologi didasari premis bahwa untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien, segala komponen untuk mencapai tujuan itu mesti diorganisasikan diintegrasikan dan diatur. Artinya perlu adanya perencanaan, kesepakatan dan evaluasi terhadap setiap komponen manusiawi dan komponen non manusiawinya. Dengan demikian kehadiran materi audio visual dan media lain akan memberikan kontribusi optimal terhadap guru. Guru mungkin akan menemukan media ajar tertentu sebagai pengganti untuk memerankan fungsi yang biasa dilakukannya sendiri. Guru sebagai aflikator dari metode-metode pendidikan dan pengajaran perlu memiliki sikap positif terhadap teknologi pendidikan. Sikap ini akan tumbuh manakala ia yakin akan manfaat dari pemakaiannya. Ia juga perlu menguasai cara penggunaan media ajar sehingga ia dapat mengoftimalkan pemakaiannya.dan yang paling penting dari semuanya ini adalah pemahaman hakikat teknologi sebagai desain instrumental action yang ditempatkan dalam kerangka sistem yang melibatkan manajemen-manajemen pendidikan secara keseluruhan. Guru dapat mendesain sendiri bentuk aplikatif dari metode-metode pendidikan Islam. Bagaimana Hiwar Qur’ani dan Nabawi, kisah Qur’ani dan Nabawi dan metode-metode pendidikan Islam lainnya dapat diaplikasikan dalam bentuk teknologi pendidikan yang lebih nyata, sehingga betul-betul menjadi tafsir empirik dari tafsir maudu’i ini.


1 H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam : Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Cet.5 (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), hal. 61

2 Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam,Cet. 3 (Jakarta: Logos, 1999) hal. 91

3 Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam, Cet. 1 (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1962) hal. 183

4 Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam Cet. 3 ( Jakarta: Logos, 1999) hal. 92

5 Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfad Al-Qur’an Al-Karim (tnp.: Angkasa, t.t.), hal. 425

6 Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Cet. 1 (Jakarta: Bulan Bintang, 1979) hal. 551

7 Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam, Cet.1 (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1962) hal 188

8 Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-prinsip dan Metoda Pendidikan Islam Dalam Keluarga, di Sekolah dan di Masyarakat, Cet. 1 ( Bandung: Cv. Diponegoro, 1989) hal. 283

9. Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi An-Naisaburi, Sohih Muslim, (Bandung: Dahlan, t.t.) jilid II hal. 145

10Imam Sulaiman bin Al-Asy’ats Al-Sajistani, Sunan Abu Dawud (Bandung: Dahlan, t.t.) jilid 230

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: